Dari Dalam ke Luar
Ini terjadi lagi. Aku merasa Tuhan ingin kembali “berbicara” kepadaku. Selama
perayaan ekaristi sore itu, aku tak berhenti memikirkan sebuah kutipan dari Injil
Matius 22: 34-40.
Sebagai seseorang yang didominasi tipe kepribadian The Individualist dalam Enneagram,
aku memiliki kesadaran yang kuat akan diri sendiri maupun situasi yang kualami
sehingga cenderung terlibat dalam percakapan panjang dengan imajinasiku. Ketika
pastor sedang berkhotbah, aku justru larut dalam khayalanku: melalui bacaan
Injil pada sore itu, Tuhan hendak menyampaikan sesuatu terkait perasaanku terhadap
seorang gadis.
Aku mulai akrab dengan khayalan semacam itu semenjak berkuliah di Salamanca.
Pada masa-masa awal di sana, aku yang berasal dari keluarga sederhana (bapak
dan ibuku adalah petani; keluarga kami berasal dari Manacor, Mallorca) menemui
banyak kesulitan: hambatan dalam beradaptasi, keterbatasan finansial dan fasilitas,
hingga perasaan kesepian dan rendah diri. Namun, kesulitan-kesulitan itu tak
menghalangiku untuk berdoa. Itu janji sunyiku kepada Bapak dan Ibu: sesering
mungkin bersyukur dan memohon kepada-Nya, meneruskan laku mereka berdua yang
tanpa putus telah terlebih dulu menjalankannya sehingga aku diterima di universitas
impianku.
Setiap hari, sejak Senin sampai Minggu, aku merayakan ekaristi di sebuah
gereja di dekat asramaku. Terkadang aku naik bus, tapi kerap kali aku
berjalan kaki. Di gereja itulah, hubungan-dengan-Tuhan yang sulit
kujelaskan, berawal: entah bagaimana, beberapa kali bacaan Injil ekaristi Minggu seperti
ditujukan langsung kepadaku, terhadap berbagai persoalan hidup yang sedang kuhadapi
saat itu. Beberapa orang menyebutnya kebetulan. Yang lain meyakininya sebagai penyelenggaraan
ilahi. Aku tak tahu mana yang benar. Yang kutahu, itulah yang kualami dan
kurasakan, dan itu membekas hingga kini. Tuhan telah berbicara kepadaku.
Christina dan aku, Santiago, bertemu hampir tiga tahun lalu. Kami sama-sama
mengikuti kursus bahasa Inggris di Plaza de España, Madrid. Saat ini, kami sedang menempuh tingkat delapan.
Meski demikian, kami baru benar-benar akrab sejak lima tingkat terakhir. Di
setiap kenaikan tingkat, jumlah peserta terus berkurang. Itu menciptakan
kondisi yang mau tak mau membuat kami, dua orang pemalu dan pendiam, mulai menjadi
aktif dan menampilkan siapa diri kami. Dari situlah kami mulai saling mengenal dan
menemukan banyak kemiripan dalam hal karakter maupun sikap.
Ketika pertama kali mengikuti kursus itu, lima tahun telah berlalu sejak
aku dan pacar pertama berpisah. Setelah itu, sejumlah perempuan pernah singgah
di hatiku. Namun, aku, si pemilih, memutuskan sendiri, bahkan sebelum situasi
mengambil alih: “ini hanya perasaan
sesaat,” ujarku kepada diri sendiri. Bagaimanapun, ceritanya berbeda dengan Christina. Selama lebih
dari dua tahun, aku menyembunyikan, mengolah, dan mengkritisi perasaan serta
motivasiku terhadapnya, sebelum akhirnya aku memberanikan diri untuk berkata, “aku mencintaimu”.
“Kupikir kamu bukan orang seperti itu,” Christina berkata kepadaku
sambil menuruni tangga. Saat itu, kami
sudah melewati tingkat kedua kursus—setara dengan dua puluhan pertemuan.
Tetapi, baru saat itu aku sungguh-sungguh menyadari
keberadaannya. Seperti telah kusebut, kami berdua pemalu dan pendiam. Kami seringkali “tenggelam”
dalam keriuhan lebih dari dua puluhan orang peserta kursus tingkat pertama dan kedua.
Sebelumnya, kami amat jarang berbicara satu sama lain.
Malam itu adalah hari pertama kursus di tingkat ketiga. Aku meneruskan informasi
dari salah seorang peserta kepada yang lainnya, termasuk Christina. “Nanti kita akan diuji tentang materi tingkat
sebelumnya.” Ternyata, tes itu tidak pernah ada. Temanku mengerjaiku—ia
memang begitu, senang mengerjai siapapun, terutama aku. Namun, kata-kata Christina itu tidak
membuatku merasa sebagai pembohong. Itu justru memantik kesadaranku. “Gadis ini diam-diam menciptakan kesan
tentangku,” ujarku dalam hati.
Setelah beberapa kali pembicaraan, kami menyadari bahwa sebelum kami berani
mengungkapkan diri satu sama lain, kami berdua sering saling mengasumsikan satu
sama lain secara diam-diam. “Asumsi-asumsi
itu adalah pertanda bahwa aku tertarik dan peduli kepadamu, pada karakter dan sikapmu
yang selama ini kuperhatikan,” tuturnya suatu ketika. Ucapannya itu membuatku
heran. “Apa yang kamu lihat dariku?”
tanyaku.
Christina adalah perempuan karir yang sukses. Ia manajer di sebuah
perusahaan multinasional, sedangkan aku hanyalah staf biasa di salah satu
perusahaan Spanyol. Hal yang membuatku merasa lebih baik adalah fakta bahwa aku
memiliki gelar master, sementara Christina tidak. Namun, saat itu aku masih
tidak mengerti alasannya memilihku.
“Itu karena sikap tulusmu, kejujuranmu
terhadap apapun perasaanmu, dan kepekaanmu terhadap orang lain. Aku jarang menemukan
laki-laki dengan kualitas-kualitas seperti itu,” ia menjawab suatu waktu. “Kamu itu satu di antara seribu”. Mendengar
hal itu, aku merasa seperti melayang. Aku tahu ia berkata jujur.
Ia melanjutkan, “untuk berhasil
mencintaimu, aku harus memahamimu. Apa yang akan kupahami darimu jika aku tidak
tahu apapun tentangmu?” “Nah, dari
sekian banyak waktu yang kuhabiskan bersamamu, pemahaman itulah yang kuperoleh
tentang dirimu”, katanya kemudian. Pada titik inilah, hidupku perlahan
mulai berubah. Aku mulai berusaha mengenali diriku sendiri dan merasa positif
terhadapnya. Christina telah membantuku dalam melihat dan menyadari sesuatu yang
sebelumnya tak kulihat dan kusadari: kenyataan bahwa aku berharga.
Kesadaran-diri itu membawa pengaruh tak hanya terhadap diriku sendiri, tapi
juga Christina. Ada kalanya ia mengeluhkan tentang masalah-masalahnya dalam pekerjaan
dan pertemanan. Aku mencintainya, karena itu aku menanggapi keluhannya. Tapi
aku tidak ingin rasa tanggung jawabku itu menutup matanya akan kemampuannya
untuk menyelesaikan sendiri masalah-masalah itu.
Sesekali aku tergoda untuk menyelesaikan masalah itu untuknya. Tapi aku
telah belajar darinya untuk melihat potensi diri kita, yang seringkali terhalang
oleh kekuatiran atau keraguan. Akhirnya, aku lebih memilih untuk berdiskusi
dengannya tentang apa yang ia rasakan dan bagaimana dia dapat menyelesaikan
sendiri masalahnya. Ia menangkap pesan tersiratku: ia tidak merasa kecewa; ia mengetahui bahwa aku melakukan itu karena aku menghormati dan menghargai
kemampuan dan motivasinya untuk menjadi orang yang mandiri.
Setibanya di apartemen, pikiranku masih diliputi sabda Yesus. “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu,
ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Untuk dapat
mencintai orang lain, kita harus terlebih dulu mampu mencintai diri sendiri.
Christina telah memberiku banyak pelajaran tentang itu.

Comments
Post a Comment