Berulang kali Ia berpikir tentang hambarnya relasinya dengan adik-adiknya. Pikiran itu kerap begitu saja melintas dalam benaknya, benak Ia yang memiliki kesadaran-diri lebih dari orang kebanyakan; suatu sensitivitas ekstra atas kondisi-situasi diri-pribadi. Ketika memikirkannya, kesadaran itu, lagi-lagi, mengganggunya. Ia menyadari perasaan terganggu itu bukan timbul karena ia MEMANG merindukan relasi yang hangat dengan mereka, dengan orang-orang yang dengannya ia berelasi tanpa syarat semenjak awal hingga nanti. Ia terganggu, karena menurutnya tidak begitu SEHARUSNYA relasi antarsaudara kandung. Dan Ia kembali tersadar, akan hal yang lain. Kejujurannya kembali menohoknya.

Paragraf di atas adalah posting pertama di blog ini. Posting itu bercerita tentang seseorang yang sifat jujurnya, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, beberapa kali membuat dirinya mengalami masalah.

Barangkali seseorang ini perlu belajar untuk terlebih dulu memikirkan setiap konsekuensi yang mungkin muncul bagi dirinya maupun orang lain apabila ia ingin mengungkapkan kejujuran, dan yang lebih penting, menanyakan kepada dirinya sendiri: "siapkah aku menghadapi konsekuensi dari kejujuranku sendiri?".

Satu hal lagi: ia perlu lebih belajar untuk mengungkapkan kejujuran demi kejujuran itu sendiri, dengan cara yang lebih mempertimbangkan perasaan orang lain.



***

Comments

Popular Posts