Gw mengagumi Amy Winehouse sebagai seorang pribadi, selain juga menyukai lagu-lagunya. Sebagai sesama penyanyi (bedanya gw ini masuk ke dalam golongan penyanyi yang amat sangat amatir sekali bingits, "kelas kamar mandi" gitu deh), gw berpendapat bahwa beliau dan lagu-lagunya dah kayak satu entitas: ketika dia menyanyi (termasuk ketika menyanyi sembari mabuk), lagu-lagunya seperti melagukan dirinya, lagunya adalah ia, ia adalah lagunya *puitis yah *lupakan. Gw terus jadi ingat pada seorang psikolog (demi keamanan yang bersangkutan, namanya gw rahasiakan *sebut saja Bunga) yang bilang kalo salah satu bentuk cinta dapat ditemukan pada relasi antara seseorang dan pekerjaan yang ditekuninya, hingga seolah-olah orang itu menyatu dengan pekerjaannya itu. Mungkin karena itu, ketika doi nyanyi, kedengarannya tulus dan orisinil.
Eniwei... Kita tau beliau sudah meninggal. Yup! Karena overdosis alkohol. Sepanjang hidupnya, dia menyalahgunakan obat-obatan terlarang, kemudian alkohol. Banyak orang menghujat tindakannya itu. Di youtube bahkan ada seseorang yang membandingkan nasibnya dengan nasib orang-orang yang tidak beruntung dengan mengatakan lebih-kurang seperti ini, "dia (maksudnya Amy) meninggal dengan cara seperti itu (overdosis alkohol) di tengah kegelimangan harta, sementara gadis lain meninggal karena kelaparan, meninggal ketika melahirkan karena kekurangan dokter, dan seterusnya ...", yang kemudian berujung pada hujatan. Dalam hati gw berkata "Hello... Anda sedang mengomentari orang yang sudah meninggal. Setidaknya tunjukkanlah rasa hormat!". Berempatilah.
Kuman di seberang lautan bisa dilihat, tetapi gajah di pelupuk mata tidak tampak. Orang yang masa bodoh tidak akan memedulikan peribahasa itu. Tapi bagi orang yang mencamkan peribahasa itu, alih-alih membuat komentar di youtube seperti yang diceritakan di atas, ia akan memilih untuk memeriksa dirinya sendiri: "apakah aku juga melakukan hal seperti yang dilakukan Amy, yang notabene kuanggap buruk? Atau apakah aku melakukan hal lain yang juga menurutku buruk?" Pertanyaan-pertanyaan ini berfokus pada diri sendiri, reflektif. Mereka tidak ditujukan terhadap orang lain. Alternatif dari itu adalah tetap memfokuskan pertanyaan terhadap orang lain, tetapi dengan tujuan menggali kebaikan dari orang lain itu, atau menggali kesalahan yang pernah dilakukannya dengan tujuan menerima sebagaimana adanya dan belajar dari situ. Lagipula, siapa sih yang sempurna di dunia ini? Siapa sih yang tidak pernah melakukan kesalahan? Seandainya saja orang yang berkomentar di youtube itu mau menanyakan hal yang sama terhadap dirinya, mungkin dia tidak akan berkomentar seperti itu.
Setiap kali gw tertarik terhadap seseorang, gw akan berusaha mencari tahu tentang hidupnya. Bukan hanya kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya (untuk dicari tahu kenapa dia bisa sampai melakukannya dan belajar berempati terhadapnya serta belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama), tetapi TERUTAMA hal-hal baik yang pernah ia perbuat. Karena sama seperti kita, gw percaya dia juga ingin dikenang karena hal-hal baik itu, bukan sebaliknya. Justru pada titik inilah gw menjadi semakin kagum terhadap Amy.
Amy lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pemasang panel jendela, sementara ibunya adalah tukang obat. Sejak kecil, musik sudah menjadi pengaruh besar dalam hidup Amy. Anggota keluarga besarnya adalah pemusik jazz profesional. Hidup Amy sehari-hari dipenuhi oleh musik. Ketika berumur 15 tahun, ia mulai menulis lagu. Ia sempat bekerja sebagai jurnalis dan di malam hari menyanyi di klub setempat, sebelum akhirnya menjadi penyanyi profesional. Ia bisa dikatakan telah menemukan dirinya, jalan hidupnya, gairahnya, di musik (menggembirakan sekali ya bisa menemukan passion di usia yang relatif masih muda?).
Kesuksesan dengan cepat menghampiri Amy. Album debutnya, Frank, memperoleh pujian baik dari kritikus maupun pasar. Frank, yang terinspirasi dari nama Frank Sinatra, penyanyi yang lagu-lagunya menemani hari-hari Amy sejak kecil, menjadi album yang sukses dalam hal penjualan dan memperoleh banyak penghargaan. Bersamaan dengan itu, keuangan Amy tumbuh dengan pesat.
Sebagaimana sering kita dengar, kesuksesan, kehidupan selebritis, memiliki banyak sisi kelam, salah duanya obat-obatan terlarang dan alkohol. Amy jatuh pada keduanya, dan pemberitaan mengenai hal itu mulai mengimbangi pemberitaan mengenai kesuksesan karya-karyanya. Bad news are good news! Kredo media massa inilah yang pada gilirannya akan memengaruhi orang-orang seperti orang yang menghujat Amy di youtube. Persoalan obat-obatan terlarang dan alkohol yang membelit Amy bahkan pernah memercikkan ide di kepala Nick Gatfield, presiden Island Records, untuk melepas Amy sebagai artis perusahaan rekamannya. Selain kedua permasalahan itu, Amy sering dipotret media sebagai seorang gadis yang dirundung keputusasaan, yang memiliki pengendalian diri yang rendah, yang tertekan secara emosional maupun fisik, yang rentan.
Namun, tidak adakah pemberitaan positif mengenai dirinya? Tentu ada. Tapi seperti apa pemberitaan itu?
Sepanjang hidupnya, Amy mendermakan uang, musik, dan waktunya kepada banyak sekali lembaga amal, terutama yang peduli terhadap anak-anak, masa depan umat manusia. Tercatat ada ratusan lembaga amal dari beragam minat yang didukungnya. Sisi kepribadiannya yang dermawan ini tidak banyak diketahui oleh publik (ya, publik lebih mengetahui sisi kontroversialnya yang menjadi sumber berita bagi media). Tapi komunitas seni dan komunitas amal mengingatnya sebagai seseorang dengan kemurahan hati yang luar biasa, hingga muncul ujaran "Ask Amy, and she will do it".
Salah satu kisah yang menyentuh hati gw adalah ketika pada 2012, ketahuan bahwa seorang pria bernama Julian pernah menjalani tes medis atas tanggungan Amy, yang sama sekali tidak mengenalnya. Julian mengatakan, "I had surgery on 1 July 2009 ... it cost a fortune and Amy paid for the whole thing. I tried to thank her but she just hugged me and told me not to say anything. Her generosity gave me my life back".
Dan inilah yang membuat gw semakin kagum: dia tidak melakukan semuanya itu karena ia ingin dikenang sebagai orang yang pernah melakukannya. Dia melakukan hal-hal baik itu semata karena dia ingin. Adakah yang lebih jujur dan tulus daripada itu?
Akhirnya, mungkin tidak ada testimoni yang lebih meyakinkan dari orang-orang yang sangat mengenalnya.
Tony Bennett, seorang penyanyi yang paham sekali tentang jazz, seorang legenda musik jazz, yang pernah bekerja bersama Amy (mereka berdua melahirkan lagu berjudul "Body and Soul", peraih Grammy Award untuk kategori, Best Pop Duo/Group Performance, yang hasil penjualannya digunakan untuk membiayai yayasannya sendiri, the Amy Winehouse Foundation) pernah mengatakan "... she was the only singer that really sang what I call the 'right way' because she was a great jazz-pop singer... She was really a great jazz singer. A true jazz singer."
Lainnya, Lily Allen, seorang penyanyi yang mengenal Amy dengan sangat dekat, mengatakan "I know Amy Winehouse very well. And she is very different to what people portray her as being. Yes, she does get out of her mind on drugs sometimes, but she is also a very clever, intelligent, witty, funny person who can hold it together. You just don't see that side."
Good bye, Amy, a soul that cried with voice and suffocated in passion... Rest in peace!
***


Comments
Post a Comment