Hampir 1
tahun yang lalu, saya mengikuti sebuah training tentang inovasi dari
kantor tempat saya bekerja.
Sebelum
pelaksanaan training, masing-masing peserta diminta untuk melaksanakan Misi 7,
yaitu melakukan hal-hal yang belum pernah atau jarang dilakukannya, atau
hal-hal yang unik untuk dilakukan, selama 7 hari berturut-turut. Kenapa para
peserta diminta untuk melakukan hal tersebut? Karena katanya setiap dari kita
bisa memunculkan inovasi dengan mulai melakukan hal-hal baru, atau melakukan
hal-hal yang biasa kita lakukan dengan cara yang baru.
Selain itu, para peserta juga diminta untuk menuangkan pengalaman selama seminggu itu ke dalam suatu tulisan, yang harus memuat insight yang diperoleh setiap harinya. Jadi, Misi 7 ini semacam membuat buku harian yang berisi pengalaman mencoba hal-hal baru selama 7 hari berturut-turut.
Inilah yang saya lakukan selama 7 hari itu:
#1 Menulis Resensi Film
Misi di hari pertama adalah menonton satu film, lalu membuat resensinya. Pilihan jatuh pada Atonement. Kenapa? Biang keladinya adalah sebuah artikel di mana penulisnya merekomendasikan pembacanya untuk menonton Atonement untuk menguji apakah si pembaca menghargai hubungan dengan orang-orang terdekatnya atau tidak.
Singkat kata, film itu berkisah tentang seorang gadis berumur
13 tahun bernama Briony yang gemar menulis cerita. Secara tak sengaja, ia
beberapa kali melihat momen-momen erotis antara kakaknya (Cecilia) dengan
seorang laki-laki yang bekerja di rumah mereka (Robbie). Briony, yang
sebenarnya suka pada Robbie, mempersepsikan secara keliru bahwa Robbie telah
melecehkan kakaknya secara seksual dan menyimpulkan bahwa Robbie adalah seorang
penjahat seksual. Persepsi Briony itu kemudian bercampur aduk dengan berbagai
kejadian setelahnya, yang akhirnya berujung pada penangkapan Robbie atas
tuduhan pemerkosaan terhadap salah seorang anggota keluarga besar Briony
berdasarkan kesaksian Briony yang keliru. Robbie kemudian diberi dua pilihan:
menjalani hukuman di penjara, atau bergabung dengan militer. Cecilia yang
mengetahui keadaan yang sebenarnya, bahwa ia dan Robbie saling jatuh cinta,
marah terhadap keluarganya yang tidak memercayai Robbie, dan terutama terhadap
Briony. Robbie ditugaskan ke luar negeri, sementara Cecilia pergi dari rumah
dan tidak ingin lagi bertemu dan berbicara dengan keluarganya. Briony, yang
akhirnya menyadari kesalahannya, berusaha mengontak Cecilia tanpa memperoleh
jawaban. Film berlanjut pada Cecilia dan Robbie yang dikisahkan bersatu kembali
dan menikah. Tapi di akhir film ketahuan bahwa sebenarnya Cecilia dan Robbie
tidak pernah bertemu kembali sejak Robbie pergi berperang. Kisah itu hanyalah
rekaan Briony dalam bukunya yang berjudul Atonement. Sebagai ungkapan penyesalan karena telah
merenggut kebahagiaan Cecillia dan Robbie, Briony berusaha untuk memberikan
kebahagiaan itu dalam cerita fiksi.
Insight: hargailah relasi kita dengan orang-orang tercinta sebelum kita kehilangan mereka dan menyesal, dan ujilah senantiasa persepsi kita, karena itu bisa saja keliru.
#2 Bermeditasi
Kira-kira jam 10 malam, saya bermeditasi. Pemicunya adalah buku tentang doa yang dikarang oleh Anthony De Mello yang berjudul Sadhana. Dalam buku itu, De Mello menjelaskan tentang cara berdoa dan bermeditasi berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun memberikan retret di India. Pendorong lainnya adalah Matthieu Ricard, seorang biksu Tibet yang pernah dijuluki “manusia paling bahagia di dunia” karena penguasaan pikirannya yang luar biasa sebagai hasil dari meditasi selama puluhan ribu jam. Meditasi berlangsung lebih-kurang 10 menit. Selama itu, meski terjadi dalam situasi tenang, benak saya justru gaduh. Berbagai macam pikiran (positif maupun negatif) muncul. Daripada bereaksi terhadap pikiran-pikiran itu, saya mengamatinya, seperti yang disarankan De Mello. Meditasi diakhiri dengan kesimpulan yang membenarkan pendapat de Mello, bahwa meditasi setidaknya akan mengungkapkan sesuatu tentang diri kita.
Insight: pikiran-pikiran yang muncul selama meditasi telah mengungkapkan sesuatu tentang diri saya, tentang concern-concern terdalam, yang sebelumnya tidak saya ketahui.
#3 Membuat Prakarya
Suatu ketika, saya menonton salah satu episode Kick Andy yang menghadirkan Ahok. Saat itu, saya merasa begitu terinspirasi oleh sosok Ahok yang berani membela kebenaran. Perasaan itu begitu kuat dan bertahan selama berminggu-minggu hingga pada Kamis, saya mulai mengumpulkan gambar Ahok dan tokoh-tokoh lain (baik nasional maupun internasional) yang menginspirasi saya. Saya kemudian menyusun foto-foto mereka dan selanjutnya akan dirangkai di pintu kamar.
Insight: saya jadi mengetahui siapa-siapa saja orang yang menginspirasi saya dan alasannya.
#4 Mengikuti Simposium Filsafat, Hari Pertama
Ini sudah direncanakan sejak jauh hari. Saya tertarik untuk mengikutinya karena, selain saya tertarik dengan filsafat, Bapak Jokowi dijadwalkan akan hadir pada acara itu. Ternyata, beliau batal hadir karena harus mengantar Presiden SBY ke bandara dan setelahnya berangkat ke Semarang untuk mengikuti Rakernas PDI-P. Tapi saya tidak kecewa, karena untuk pertama kalinya saya dapat melihat langsung dan mendengarkan interaksi antara tokoh-tokoh filsafat yang selama ini saya baca tulisan-tulisannya, seperti Romo Franz Magnis-Suseno, Romo B. Herry-Priyono, Ibu Karlina Supelli. Selain itu, dari perbincangan mereka saya memperoleh ...
insight: kita semua pada dasarnya wajib berfilsafat, yaitu bersikap kritis terhadap berbagai peristiwa di masyarakat yang menurut kita tidak benar, seperti korupsi, perusakan lingkungan hidup, ancaman terhadap kebebasan berpendapat, dengan cara tidak melakukan tindakan-tindakan itu.
#5 Simposium Filsafat, Hari Kedua
Pada hari kedua simposium filsafat, ketua panitia menyampaikan hasil simposium yang selama 2 hari berusaha menjawab pertanyaan: adakah Filsafat Indonesia? Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pidato penutup yang dibawakan oleh Romo Magnis dan Jaya Suprana. Terkait pidato Pak Jaya, awalnya saya tidak terlalu tertarik karena isinya tidak membahas tentang filsafat. Tetapi, saya mulai terinspirasi oleh pidato beliau seiring dengan cerita beliau tentang bagaimana ia menggali inspirasi dari Bung Karno dan Bung Hatta yang tidak menunggu pengakuan dari negara lain untuk memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia, dan kemudian menggunakan inspirasi itu untuk mendirikan Museum Rekor Indonesia (MURI) dan menganugerahkan rekor-rekor dunia tanpa bergantung pada pengakuan dari Guinness World Records. Sore itu juga, Jaya dengan berani menganugerahkan 2 rekor MURI kepada STF Driyarkara sebagai bentuk penghargaannya terhadap kontribusi sekolah tinggi itu terhadap perkembangan ilmu filsafat di Indonesia, dan dengan percaya diri mendeklarasikan kedaulatan Filsafat Indonesia.
Insight: pengakuan terpenting bagi diri kita justru adalah pengakuan yang berasal dari diri kita sendiri, bukan dari orang lain.
#6 Berjalan Cepat Selama 1 Jam
Pukul 06.30 saya keluar rumah untuk berjalan kaki. Tidak sekadar berjalan kaki, tetapi berjalan cepat. Di sepanjang perjalanan, saya berusaha memerhatikan situasi sekeliling. Alhasil, saya menemukan beberapa hal yang menarik perhatian saya: iklan penjualan rumah, beberapa orang kakek sedang jogging (salut dengan mereka yang tetap menjaga kebugaran di usia senja), sebuah keluarga yang melakukan jalan kaki sehat bersama-sama (bapak, ibu, dan 2 orang anaknya, cowok dan cewek, yang berjalan sembari bergandengan tangan), ibu-ibu rumah tangga sedang berbelanja. Pengalaman pagi itu memunculkan sejumlah perasaan positif.
Insight: mengejar tujuan memang penting, tapi menyadari hal-hal yang terjadi selama proses mengejar tujuan itu tidak kalah penting.
#7 Menyumbangkan Botol Bekas kepada Pemulung
Di dekat tempat saya tinggal, terdapat sebuah perkampungan pemulung. Di situ terdapat sejumlah gubuk yang berdiri di bantaran kali Ciliwung, di bawah jembatan, di dekat pertigaan yang pada sore hari dipadati oleh kendaraan. Di situ, para pemulung dari berbagai kelompok usia, termasuk anak muda (setara usia anak SD sampai dengan mahasiswa), tinggal. Setiap sore, anak-anak muda itu (tak terkecuali yang perempuan) menjadi polisi cepek di pertigaan tersebut. Senin sore, saya makan nasi goreng di dekat situ dan kemudian membeli minuman di botol plastik. Ketika memandangi botol plastik yang isinya sudah hampir habis, sontak muncul ide untuk memberikan botol plastik itu ke para pemulung di dekat situ. Dalam perjalanan pulang, saya melewati mereka. Saya menghampiri salah seorang pemuda pemulung dan bertanya, “kamu ngumpulin botol kosong?” “Iya, Mas.” “Ini ada botol kosong”. Pemuda itu menerimanya dan kemudian berterima kasih. Ekspresi wajahnya menyiratkan kekagetan. Mungkin dia kaget masih ada seorang asing yang mau menghampirinya dan memberikan botol kosong, sekaget saya sendiri yang menyadari bahwa dia, dan para pemulung lainnya, bukanlah orang yang enggan berinteraksi dengan orang yang baru dikenal, dan bahwa mereka adalah orang-orang yang tahu menerima kebaikan serta berterima kasih.
Insight: setiap orang pada dasarnya baik, termasuk mereka yang hidup di dunia yang "keras".
***

Comments
Post a Comment