Keyakinan yang Baik
"Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau" (Luk 17: 19)
Beberapa hari belakangan, pikiran dan perasaanku keruh. Aku menjadi semakin kesal karena perjalanan ke Semarang yang seharusnya menjadi perjalanan yang menyenangkan, harus kumulai dalam kondisi seperti itu (meskipun, pada akhirnya itu memang menjadi perjalanan yang menggembirakan, thanks to teman-teman yang pergi bersama dan pengalaman-pengalaman baru yang kami jalani).
Sepanjang Sabtu pagi di dalam kereta, aku berjibaku mengolah pikiran dan perasaan itu, mengamat-amatinya, mengulitinya lapis demi lapis, sampai akhirnya mampu menerima semuanya, dan secara perlahan keduanya tak lagi mengusik. Kemauan keras untuk mencari penyelesaian atas pikiran dan perasaan yang mengganggu, serta keyakinan bahwa Ia sedang memberiku kesempatan untuk belajar dan berkembang melalui peristiwa ini, semuanya itu memberikan dorongan dan kekuatan untuk mengatasi gangguan tersebut dan untuk menjalani prosesnya yang melelahkan.
Mengenali dan memahami pikiran dan perasaan hingga ke akarnya sungguh merupakan pekerjaan yang berat dan membutuhkan latihan yang panjang. Tapi jika buah dari pekerjaan dan latihan itu adalah ketenteraman dan kepenuhan hati, masak kita enggan mengusahakannya?
Maka, setelah bergolak di sepanjang pagi, aku mulai merasa jauh lebih tenang di siang menjelang sore, persis di saat aku dan teman-teman akan memulai penjelajahan di Semarang: mengeksplorasi Lawang Sewu, mencicipi gulai kambing Bustaman di Kota Lama, bersepeda di sekitaran Kota Lama dan wilayah-wilayah lainnya sembari berburu oleh-oleh khas setempat, sampai mengalami suasana mal di sana.
Fast forward ke hari kedua, aku mengikuti ekaristi Minggu pagi di katedral. Saat itu pukul 05.30, tetapi gereja sudah ramai dengan umat. Tak hanya para orang tua, tetapi juga kaum muda. Dan seperti yang sudah-sudah, Ia menyapaku.
Bacaan-bacaan kitab suci di hari itu dipersatukan oleh satu tema: menyebarkan kabar baik dari Allah, khususnya yang kita terima secara pribadi (seperti yang diterima Naaman dan seorang kusta dari Samaria). Namun, pada hari itu sang pastor memilih untuk berkhotbah tentang keyakinan (belief). Kenapa? Karena kabar baik yang diterima Naaman dan seorang kusta itu adalah buah dari keyakinan keduanya akan kuasa dan kerahiman Allah. Maka, tentang keyakinan ini, sang pastor menceritakan dua kisah.
Di masa lalu, ia mengenal seorang mahasiswa ATMI yang hidup dengan uang sebesar dua ratus ribu rupiah untuk seminggu. Tergerak oleh belas kasihan karena mendengar hal itu, sang pastor menawari sang mahasiswa untuk makan di pastoran kapanpun ia merasa lapar. Mahasiswa-mahasiswa lainnya yang menerima ajakan itu, benar-benar menindaklanjuti ajakan sang romo: pukul sebelas malam, mereka bertandang ke pastoran untuk meminta makan. Tapi, sang mahasiswa tidak.
Alih-alih meminta makan kepada romo, ia berusaha mencukupi dirinya dengan apa yang ia punya, bahkan secara rutin dua kali dalam seminggu, ia membelikan makan untuk seorang gelandangan yang ia kenal. Dari pacar sang mahasiswa, sang pastor jadi mengetahui bahwa sang mahasiswa juga sedang menabung untuk membelikan gelandangan itu kasur agar ia bisa tidur dengan lebih nyaman.
Ketika romo bertanya kepadanya "kenapa kamu melakukan itu, padahal kamu sendiri berkekurangan?", ia menjawab "saya yakin bahwa kalau saya berbuat baik kepada orang lain, Tuhan juga akan baik kepada saya". Dan memang demikian yang terjadi. Saat ini, sang mahasiswa telah bekerja dan karirnya melesat dengan cepat.
Kisah kedua adalah tentang seorang ibu dengan dua anak kecil, yang ditinggalkan oleh suaminya. Pada awalnya, ia menyambung hidup dengan menawarkan jasa cuci pakaian dari rumah ke rumah. Ia bercita-cita menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. Maka, si ibu berusaha mendapatkan sebanyak mungkin orang yang mau dicucikan pakaiannya, sampai ia sadar, hasil dari pekerjaannya itu tidak akan pernah cukup untuk membiayai pendidikan anaknya.
Suatu ketika, si ibu menyusuri sungai dan ia melihat tanaman-tanaman tak bertuan tumbuh subur di tepiannya. Di pikirannya mulai tebersit ide untuk mengolah tanaman-tanaman itu menjadi buntil (nama sejenis makanan) untuk kemudian dijual, dengan keyakinan sederhana bahwa dengan berjualan buntil ia akan dapat menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin.
Beberapa hari belakangan, pikiran dan perasaanku keruh. Aku menjadi semakin kesal karena perjalanan ke Semarang yang seharusnya menjadi perjalanan yang menyenangkan, harus kumulai dalam kondisi seperti itu (meskipun, pada akhirnya itu memang menjadi perjalanan yang menggembirakan, thanks to teman-teman yang pergi bersama dan pengalaman-pengalaman baru yang kami jalani).
Sepanjang Sabtu pagi di dalam kereta, aku berjibaku mengolah pikiran dan perasaan itu, mengamat-amatinya, mengulitinya lapis demi lapis, sampai akhirnya mampu menerima semuanya, dan secara perlahan keduanya tak lagi mengusik. Kemauan keras untuk mencari penyelesaian atas pikiran dan perasaan yang mengganggu, serta keyakinan bahwa Ia sedang memberiku kesempatan untuk belajar dan berkembang melalui peristiwa ini, semuanya itu memberikan dorongan dan kekuatan untuk mengatasi gangguan tersebut dan untuk menjalani prosesnya yang melelahkan.
Mengenali dan memahami pikiran dan perasaan hingga ke akarnya sungguh merupakan pekerjaan yang berat dan membutuhkan latihan yang panjang. Tapi jika buah dari pekerjaan dan latihan itu adalah ketenteraman dan kepenuhan hati, masak kita enggan mengusahakannya?
Maka, setelah bergolak di sepanjang pagi, aku mulai merasa jauh lebih tenang di siang menjelang sore, persis di saat aku dan teman-teman akan memulai penjelajahan di Semarang: mengeksplorasi Lawang Sewu, mencicipi gulai kambing Bustaman di Kota Lama, bersepeda di sekitaran Kota Lama dan wilayah-wilayah lainnya sembari berburu oleh-oleh khas setempat, sampai mengalami suasana mal di sana.
Fast forward ke hari kedua, aku mengikuti ekaristi Minggu pagi di katedral. Saat itu pukul 05.30, tetapi gereja sudah ramai dengan umat. Tak hanya para orang tua, tetapi juga kaum muda. Dan seperti yang sudah-sudah, Ia menyapaku.
Bacaan-bacaan kitab suci di hari itu dipersatukan oleh satu tema: menyebarkan kabar baik dari Allah, khususnya yang kita terima secara pribadi (seperti yang diterima Naaman dan seorang kusta dari Samaria). Namun, pada hari itu sang pastor memilih untuk berkhotbah tentang keyakinan (belief). Kenapa? Karena kabar baik yang diterima Naaman dan seorang kusta itu adalah buah dari keyakinan keduanya akan kuasa dan kerahiman Allah. Maka, tentang keyakinan ini, sang pastor menceritakan dua kisah.
Di masa lalu, ia mengenal seorang mahasiswa ATMI yang hidup dengan uang sebesar dua ratus ribu rupiah untuk seminggu. Tergerak oleh belas kasihan karena mendengar hal itu, sang pastor menawari sang mahasiswa untuk makan di pastoran kapanpun ia merasa lapar. Mahasiswa-mahasiswa lainnya yang menerima ajakan itu, benar-benar menindaklanjuti ajakan sang romo: pukul sebelas malam, mereka bertandang ke pastoran untuk meminta makan. Tapi, sang mahasiswa tidak.
Alih-alih meminta makan kepada romo, ia berusaha mencukupi dirinya dengan apa yang ia punya, bahkan secara rutin dua kali dalam seminggu, ia membelikan makan untuk seorang gelandangan yang ia kenal. Dari pacar sang mahasiswa, sang pastor jadi mengetahui bahwa sang mahasiswa juga sedang menabung untuk membelikan gelandangan itu kasur agar ia bisa tidur dengan lebih nyaman.
Ketika romo bertanya kepadanya "kenapa kamu melakukan itu, padahal kamu sendiri berkekurangan?", ia menjawab "saya yakin bahwa kalau saya berbuat baik kepada orang lain, Tuhan juga akan baik kepada saya". Dan memang demikian yang terjadi. Saat ini, sang mahasiswa telah bekerja dan karirnya melesat dengan cepat.
Kisah kedua adalah tentang seorang ibu dengan dua anak kecil, yang ditinggalkan oleh suaminya. Pada awalnya, ia menyambung hidup dengan menawarkan jasa cuci pakaian dari rumah ke rumah. Ia bercita-cita menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. Maka, si ibu berusaha mendapatkan sebanyak mungkin orang yang mau dicucikan pakaiannya, sampai ia sadar, hasil dari pekerjaannya itu tidak akan pernah cukup untuk membiayai pendidikan anaknya.
Suatu ketika, si ibu menyusuri sungai dan ia melihat tanaman-tanaman tak bertuan tumbuh subur di tepiannya. Di pikirannya mulai tebersit ide untuk mengolah tanaman-tanaman itu menjadi buntil (nama sejenis makanan) untuk kemudian dijual, dengan keyakinan sederhana bahwa dengan berjualan buntil ia akan dapat menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin.
Maka, si ibu mewujudkan idenya, ia mengolah tanaman-tanaman di tepi sungai menjadi buntil, dan menjualnya. Rupanya berkat Tuhan memang tak berkesudahan. Setiap kali ia mencabut tanaman di satu tempat, di tempat lainnya tanaman baru tumbuh. Begitu seterusnya sehingga ia tak pernah kekurangan bahan baku untuk memasak buntil.
Kini, anak-anak sang ibu, "anak-anak buntil", merupakan lulusan dari UGM dan UKDW di Yogyakarta.
Keyakinan sang mahasiswa dan si ibu akan sesuatu yang baik, telah membawa mereka mengatasi kesulitan yang tak terperikan hingga akhirnya memetik buah dari keyakinan itu.
***
Kini, anak-anak sang ibu, "anak-anak buntil", merupakan lulusan dari UGM dan UKDW di Yogyakarta.
Keyakinan sang mahasiswa dan si ibu akan sesuatu yang baik, telah membawa mereka mengatasi kesulitan yang tak terperikan hingga akhirnya memetik buah dari keyakinan itu.
***


Comments
Post a Comment