MEMAKNAI KISAH SANTO THOMAS SECARA BARU
Pada Minggu, 16 April 2023, lalu Gereja Katolik memperdengarkan kisah dari Injil Yohanes 20: 19-31. Perikop ini menceritakan pertemuan pertama antara Tuhan Yesus setelah bangkit dari kematian, dengan para muridnya.
Buatku, hal yang paling diingat dari kisah ini adalah interaksi antara Thomas dengan para murid lainnya, dan kemudian dengan Tuhan Yesus. Dari interaksi ini, lahir stigma yang sering kudengar tentang Santo Thomas: bahwa ia peragu, berkeyakinan lembek, dan tidak seharusnya dijadikan contoh dalam mengimani. Khotbah pastor parokiku waktu itu persis membahas stigma-stigma tersebut.
Maka, (1) demi menyelamatkan reputasi Santo Thomas dan siapapun yang menggunakan Thomas sebagai nama baptis (kidding) dan (2) karena di Minggu itu kita merayakan Pesta Kerahiman Ilahi, yang mengingatkan kita pada kerahiman Allah yang tak terbatas dan untuk menjadi saluran kerahiman itu bagi orang lain (tak terkecuali untuk Santo Thomas yang mengalami stigma negatif di atas), aku menuliskan ini sebagai “pembelaan” bagi Santo Thomas (well, I’m a lawyer).
Bukan suatu kebetulan juga kalau Minggu, 16 April 2023, adalah hari Minggu pertama setelah Paskah. Selama Tri Hari Suci sampai dengan Minggu Paskah, kita diajak untuk memaknai hidup kita dan relasi kita dengan Tuhan serta sesama secara baru.
Pada Kamis Putih, Tuhan Yesus mengajar kita untuk memberi makna baru pada sejumlah hal: bahwa kemuliaan seorang pemimpin diukur dari kerendahan hatinya, bahwa cinta mewujud dalam pelayanan. Melalui Jumat Agung, kita diajak memperbarui makna penderitaan dan pengorbanan, yang alih-alih menyengsarakan, justru membawa kita kepada keselamatan. Dan di Sabtu Vigili, kita diingatkan kembali pada keutamaan dari pengharapan.
Karenanya, dengan menimba semangat Paskah di atas, aku ingin memberi makna baru terhadap kisah Santo Thomas:
1. kisah Santo Thomas memperlihatkan sosoknya
sebagai manusia biasa, yang pada dasarnya susah meyakini sesuatu yang belum dialami
secara indrawi, yang bisa merasa rapuh ketika mengalami situasi sulit
(ditinggal mati oleh Tuhan Yesus, guru yang dia ikuti, dengan cara yang menyesakkan). Aku pribadi merasa lebih mudah mengaitkan pengalaman hidupku dengan sosok
manusiawi seperti ini daripada yang suci/sempurna, sehingga kisah ini dan pesan yang ada di baliknya lebih mudah meresap ke dalam pikiran dan perasaanku.
2. Thomas bersikap skeptis karena saat penampakan
pertama Yesus, dia tidak berada di situ. Bagaimana kalau yang absen waktu itu
adalah murid yang lain? Apakah murid tersebut akan bersikap seperti Thomas?
Mungkin ya, mungkin tidak. Poinnya di sini (seperti disebut di poin 1), Thomas hanya menunjukkan
sifat manusiawinya; sifat yang mungkin juga akan diperlihatkan murid lainnya kalau ia berada di posisi yang sama dengan Thomas.
3. justru karena sikap awal Thomas yang meragukan
kebangkitan Tuhan, kita memperoleh mutiara-mutiara berikut dari kisahnya di
Injil:
a. pernyataan iman yang mendalam lewat ungkapan Thomas “Ya Tuhanku dan Allahku”. Sebuah ungkapan yang menggambarkan lompatan iman, dari sikap skeptis menuju pengakuan penuh. Kalau pertobatan dikatakan sebagai perubahan sikap secara total (ke arah yang baik), maka mungkin sikap Thomas inilah contoh pertobatan sejati. Alih-alih disebut tidak cocok menjadi teladan iman, lewat pernyataan ini Thomas justru memberikan contoh dalam mengimani. Jangan dilupakan juga bahwa Tuhan hadir ke dunia justru untuk menyelamatkan “orang sakit atau terasing/domba tersesat” seperti ini;
b. nasihat pamungkas dari Tuhan Yesus tentang iman (“berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”). Kita (baca: manusia yang terbatas akal dan panca indranya) bisa sungguh-sungguh menghubungkan diri kita dengan nasihat ini, karena sudah menjadi insting dasar manusia untuk tidak meyakini apa yang tidak/belum dilihat/dialami sendiri. Karena insting dasar tersebut, upaya untuk meyakini sesuatu yang tidak kelihatan membutuhkan keberanian, dan penuh tantangan. Tapi ketika beriman itu sudah dipilih sebagai sikap final, nilainya menjadi tak terhingga justru karena diraih setelah melalui banyak perjuangan.
***

Comments
Post a Comment